Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2024

Keraguan di Hadapanmu

Gambar
Dalam bayang-bayang senja yang memudar, Aku berdiri di hadapanmu, diam dan terjaga. Ada getar di hati, tak terucap kata, Keraguan menyusup, menggores jiwa. Matamu memancarkan sinar yang tenang, Namun, di dalam diriku badai bergemuruh, Setiap langkah mendekat, terasa bimbang, Apakah aku berani melangkah ataukah rapuh? Engkau hadir seperti cahaya yang terang, Namun hatiku masih tertawan bayang, Keraguan ini bagai angin malam, Menyelinap, meresap, tanpa salam. Akankah kau lihat di balik senyum ini, Ada rasa takut yang tak terucap pasti? Atau akankah kau pahami dalam diamku, Bahwa hatiku masih ragu di hadapanmu? Namun, dalam setiap ragu yang menghalangi, Ada harap yang ingin kugapai tinggi, Mungkin, di balik semua ketidakpastian ini, Ada cinta yang lebih besar dari keraguan ini.

Sedikit cerita tentang bulan purnama

Gambar
  Pada malam ini, bulan purnama menyapa   Di langit tenang, ia bersinar tanpa cela   Cahaya lembut menyentuh hati yang lama luka   Menghapus kenangan yang pernah menyiksa jiwa Kini aku berdiri di bawah sinarnya   Dengan senyum yang tak lagi terikat masa lalu   Rasa sakit yang dulu mendalam, kini telah sirna   Bulan purnama menjadi saksi, aku telah sembuh Di bawah cahayanya, aku temukan bahagia   Tanpa bayanganmu yang dulu menghantui   Malam ini, aku merdeka dari cinta yang sia-sia   Dan bulan pun tersenyum, mengiringi langkahku yang baru Terima kasih, bulan purnama   Kau hadir di saat yang tepat, menyempurnakan malam   Denganmu, aku sadar, masa lalu bukan lagi beban   Dan aku bahagia, karena telah melupakanmu sepenuhnya.

Surat untuk sang maha esa

Dalam setiap hembusan napasku,   Ada bisikan yang tak henti terucap,   Tuhan, dengarkan rintihan hatiku,   Aku ingin dia, dalam setiap detik yang kutapaki. Aku tak meminta banyak dalam hidup ini,   Hanya satu, agar dia selalu di sisiku,   Menjadi pelengkap dalam setiap langkah yang kujalani,   Menyertai hari-hariku hingga akhir waktu. Tuhan, kabulkanlah doaku ini,   Izinkan kami berbagi cerita dalam suka dan duka,   Menyatu dalam cinta yang Kau ridhoi,   Seumur hidupku, aku ingin dia, dan hanya dia. Biarkan takdir membawaku padanya,   Mengikat kami dalam janji yang Kau sakralkan,   Aku akan mencintainya dengan seluruh jiwaku,   Hingga dunia tak lagi mengenal waktu.

Nggak ada judul

Aku mencoba, sungguh,   Melepas bayangmu dari setiap sudut ingatan,   Menghapus jejakmu dari tiap langkah yang tertinggal,   Tapi nyatanya, kau tetap hadir, menari dalam lamunanku. Berulang kali ku bisikkan pada diri,   Bahwa kau hanyalah kenangan yang harus kulepas,   Namun setiap kali ku coba melangkah pergi,   Alam seakan bersikeras, menahan langkahku di tempat. Angin yang berhembus membawa namamu,   Langit biru menyimpan senyummu yang dulu,   Dan setiap senja, mengingatkanku pada tatapanmu,   Seakan semesta tak rela aku melupakanmu. Berat, sungguh,   Melawan perasaan yang terus membelenggu,   Aku ingin bebas, namun hatiku tertawan,   Karena meski aku ingin melupakanmu,   Cintaku masih tertinggal, terikat dalam takdir yang tak bisa kuhindari.

Antara Harapan dan Kenyataan

Gambar
Aku diam, menahan rasa di dada,   Melihatmu dari kejauhan, penuh tanya,   Berharap kau mengerti tanpa kata,   Bahwa hatiku telah lama terpaut pada senyummu yang indah. Aku hadir di setiap gelisahmu,   Berusaha menjadi sandaran di saat kau lelah,   Menawarkan bahuku saat kau butuh,   Tapi nyatanya, kau tak pernah benar-benar melihatku. Rasa ini tumbuh dalam sunyi,   Namun kau memilih berjalan di sisi lain,   Dengan dia, bukan aku yang kau pilih,   Meninggalkan hatiku yang remuk, terhempas dalam sepi. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari jauh,   Mengubur harapan yang dulu ku jaga rapi,   Sadar bahwa cinta tak selalu berbalas sama,   Dan aku, hanya serpihan cerita yang kau lewatkan begitu saja.

Dulu biasa, sekarang segalanya

Terlintas bayangmu di antara waktu,   Dulu kau hanya warna di kanvas hidupku,   Biasa, seperti angin yang berhembus lembut,   Tak ada getar, tak ada rindu yang menyentuh. Namun kini, segalanya berubah,   Kau hadir, menyiratkan cahaya di senja merah,   Setiap senyummu seperti pelangi setelah hujan,   Menghiasi langit hati yang dulu kelabu dan tenang. Ingin ku tatap wajahmu setiap saat,   Seperti bintang yang setia pada malam,   Setiap detik menjadi tak tertahan,   Menunggu senyummu yang manis menyapa. Kau yang dulu hanyalah sebuah cerita,   Kini menjadi puisi yang tak pernah habis ditulis,   Setiap bait tentangmu menjadi syair cinta,   Mengalir indah dalam alunan waktu yang tak ingin berlalu. #Arunika