Ayam itu bernama JONI


Hari itu, pagi-pagi sekali, saya terbangun oleh suara berisik di halaman belakang rumah. Biasanya, suara itu datang dari ayam-ayam saya yang sedang ribut berebut jagung. Tapi pagi ini, suaranya berbeda. Ada suara mesin berdengung, seperti helikopter, tapi lebih kecil. Saya menggosok mata, masih setengah tidur, dan berjalan ke jendela.

Apa yang saya lihat membuat saya hampir menjatuhkan gelas kopi saya.

Ayam jago saya, si Joni, sedang duduk di dalam sebuah pesawat kecil. Bukan mainan, tapi pesawat sungguhan, seukuran mobil. Warnanya merah cerah dengan garis-garis kuning, dan ada tulisan di sampingnya: "Joni Airlines: Terbang Lebih Tinggi, Berkotek Lebih Keras."

Saya mengucek mata lagi, memastikan ini bukan mimpi. Tapi tidak, Joni benar-benar ada di sana, dengan kacamata pilot kecil yang lucu di matanya. Dia bahkan memakai syal kecil yang berkibar-kibar tertiup angin.

"Joni, apa yang kamu lakukan?!" teriak saya, masih tidak percaya.

Joni mematung sejenak, lalu menoleh ke arah saya. "Ayo, Bos! Naiklah! Kita akan terbang ke bulan!" katanya dengan suara yang anehnya sangat manusiawi.

Saya hanya bisa melongo. Ayam saya bisa bicara? Dan sekarang dia ingin terbang ke bulan? Apa saya sedang dihipnotis oleh sekelompok mahasiswa psikologi?

Tapi sebelum saya sempat protes, Joni sudah menyalakan mesin pesawat. Suaranya meraung-raung, dan baling-balingnya berputar kencang. Saya terpaksa melompat ke samping untuk menghindari tiupan anginnya.

"Joni, tunggu! Kamu bahkan tidak punya izin terbang!" teriak saya lagi, tapi Joni sudah tidak mendengar. Dia melambaikan sayapnya (ya, sayap ayam) ke arah saya, lalu pesawat kecil itu mulai bergerak maju.

Dengan hati yang berdebar, saya melihat Joni lepas landas. Pesawatnya meluncur di atas pagar, lalu naik ke udara. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Apakah saya harus menelepon polisi? Tapi bagaimana menjelaskannya? "Halo, Pak, ayam saya mencuri pesawat dan terbang ke bulan."

Saya memutuskan untuk duduk di teras, menunggu Joni kembali. Saya bahkan tidak tahu apakah dia bisa mendarat dengan selamat. Tapi, entah kenapa, saya merasa bangga. Ayam saya, si Joni, punya mimpi besar. Dia tidak mau hanya berkotek di kandang setiap hari. Dia ingin menjelajahi langit.

Beberapa jam kemudian, saya mendengar suara mesin lagi. Saya berlari ke halaman dan melihat Joni mendekat dengan pesawatnya. Dia mendarat dengan agak kasar, tapi tidak apa-apa. Saya langsung menghampirinya.

"Bagaimana, Joni? Kamu berhasil?" tanya saya penasaran.

Joni mengangguk bangga. "Tentu saja, Bos! Bulan itu indah, tapi terlalu sepi. Tidak ada jagung di sana."

Saya tertawa. Tapi kemudian, saya melihat sesuatu yang aneh di sayap pesawatnya. Ada bekas cakar, seperti ada sesuatu yang mencoba menyerangnya di udara.

"Joni, apa ini?" tanya saya, menunjuk bekas cakarnya.

Joni menghela napas. "Ah, itu tadi ada elang yang iri. Dia pikir saya mencuri wilayahnya. Tapi saya bilang, 'Hei, ini Joni Airlines! Saya punya tiket!'"

Saya hanya bisa menggeleng-geleng. Ayam saya tidak hanya bisa bicara dan menerbangkan pesawat, tapi juga bernegosiasi dengan elang.

Sejak hari itu, kehidupan saya tidak pernah sama lagi. Joni sekarang punya jadwal penerbangan rutin. Dia bahkan mulai menjual tiket ke tetangga-tetangga saya. "Mau lihat dunia dari atas? Naik Joni Airlines!" begitu katanya.

Dan saya? Saya hanya duduk di teras, menikmati kopi saya, sambil memikirkan betapa absurdnya hidup ini. Tapi, siapa sangka? Kadang-kadang, hal-hal paling gila justru membuat hidup lebih berwarna.

Jadi, kalau suatu hari kamu melihat pesawat kecil merah-kuning terbang di atas rumahmu, jangan kaget. Itu hanya Joni, ayam pilot saya, yang sedang mengejar mimpinya.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tetaplah Berusaha dan Jangan Menyerah: Motivasi dari Tokoh Islam dan Dunia

Sabda Pandito Ratu Tan Kena wola wali

Perasaan yang Tak Pernah Beranjak