Ayam itu bernama JONI
Apa yang saya lihat membuat saya hampir menjatuhkan gelas
kopi saya.
Ayam jago saya, si Joni, sedang duduk di dalam sebuah
pesawat kecil. Bukan mainan, tapi pesawat sungguhan, seukuran mobil. Warnanya
merah cerah dengan garis-garis kuning, dan ada tulisan di sampingnya: "Joni
Airlines: Terbang Lebih Tinggi, Berkotek Lebih Keras."
Saya mengucek mata lagi, memastikan ini bukan mimpi. Tapi
tidak, Joni benar-benar ada di sana, dengan kacamata pilot kecil yang lucu di
matanya. Dia bahkan memakai syal kecil yang berkibar-kibar tertiup angin.
"Joni, apa yang kamu lakukan?!" teriak saya, masih
tidak percaya.
Joni mematung sejenak, lalu menoleh ke arah saya. "Ayo,
Bos! Naiklah! Kita akan terbang ke bulan!" katanya dengan suara yang
anehnya sangat manusiawi.
Saya hanya bisa melongo. Ayam saya bisa bicara? Dan sekarang
dia ingin terbang ke bulan? Apa saya sedang dihipnotis oleh sekelompok
mahasiswa psikologi?
Tapi sebelum saya sempat protes, Joni sudah menyalakan mesin
pesawat. Suaranya meraung-raung, dan baling-balingnya berputar kencang. Saya
terpaksa melompat ke samping untuk menghindari tiupan anginnya.
"Joni, tunggu! Kamu bahkan tidak punya izin
terbang!" teriak saya lagi, tapi Joni sudah tidak mendengar. Dia
melambaikan sayapnya (ya, sayap ayam) ke arah saya, lalu pesawat kecil itu
mulai bergerak maju.
Dengan hati yang berdebar, saya melihat Joni lepas landas.
Pesawatnya meluncur di atas pagar, lalu naik ke udara. Saya tidak tahu harus
berbuat apa. Apakah saya harus menelepon polisi? Tapi bagaimana menjelaskannya?
"Halo, Pak, ayam saya mencuri pesawat dan terbang ke bulan."
Saya memutuskan untuk duduk di teras, menunggu Joni kembali.
Saya bahkan tidak tahu apakah dia bisa mendarat dengan selamat. Tapi, entah
kenapa, saya merasa bangga. Ayam saya, si Joni, punya mimpi besar. Dia tidak
mau hanya berkotek di kandang setiap hari. Dia ingin menjelajahi langit.
Beberapa jam kemudian, saya mendengar suara mesin lagi. Saya
berlari ke halaman dan melihat Joni mendekat dengan pesawatnya. Dia mendarat
dengan agak kasar, tapi tidak apa-apa. Saya langsung menghampirinya.
"Bagaimana, Joni? Kamu berhasil?" tanya saya
penasaran.
Joni mengangguk bangga. "Tentu saja, Bos! Bulan itu
indah, tapi terlalu sepi. Tidak ada jagung di sana."
Saya tertawa. Tapi kemudian, saya melihat sesuatu yang aneh
di sayap pesawatnya. Ada bekas cakar, seperti ada sesuatu yang mencoba
menyerangnya di udara.
"Joni, apa ini?" tanya saya, menunjuk bekas
cakarnya.
Joni menghela napas. "Ah, itu tadi ada elang yang iri.
Dia pikir saya mencuri wilayahnya. Tapi saya bilang, 'Hei, ini Joni Airlines!
Saya punya tiket!'"
Saya hanya bisa menggeleng-geleng. Ayam saya tidak hanya
bisa bicara dan menerbangkan pesawat, tapi juga bernegosiasi dengan elang.
Sejak hari itu, kehidupan saya tidak pernah sama lagi. Joni
sekarang punya jadwal penerbangan rutin. Dia bahkan mulai menjual tiket ke
tetangga-tetangga saya. "Mau lihat dunia dari atas? Naik Joni
Airlines!" begitu katanya.
Dan saya? Saya hanya duduk di teras, menikmati kopi saya,
sambil memikirkan betapa absurdnya hidup ini. Tapi, siapa sangka?
Kadang-kadang, hal-hal paling gila justru membuat hidup lebih berwarna.
Jadi, kalau suatu hari kamu melihat pesawat kecil
merah-kuning terbang di atas rumahmu, jangan kaget. Itu hanya Joni, ayam pilot
saya, yang sedang mengejar mimpinya.

Komentar
Posting Komentar